Belakangan ini, istilah “orang have” ramai digunakan, terutama di kalangan Gen Z. Secara sederhana, have = “punya”, sementara haven’t = “tidak punya”. Istilah ini sering dikaitkan dengan gaya hidup: membeli sesuatu tanpa terlalu melihat harga, menggunakan barang branded, sering bepergian ke luar negeri, atau memiliki standar hidup yang terlihat serba berkecukupan.
Sekilas memang terdengar lucu. Tetapi, ada satu hal yang menarik untuk direnungkan: apakah seseorang benar-benar bisa disebut “orang have” hanya dari apa yang terlihat?
Classy People, have you ever noticed this?
Ada orang yang datang dengan penampilan sangat sederhana, tetapi auranya membuat semua orang merasa nyaman. Ia berbicara dengan tenang, memperlakukan staf restoran dengan baik, tidak memotong pembicaraan, dan tidak pernah membuat orang lain merasa kecil.
Di sisi lain, ada pula orang yang mengenakan barang mahal dari ujung kepala sampai kaki, tetapi masih merasa perlu merendahkan orang lain untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih unggul.
Dari sini kita belajar bahwa kelas tidak selalu bisa dibaca dari label yang menempel pada pakaian.

Ciri “Orang Have” yang Sebenarnya
Kalau ingin melihat apakah seseorang benar-benar have, mungkin jangan mulai dari tas, mobil, rumah, atau destinasi liburannya.
Perhatikan sikapnya.
1. Tidak Sibuk Membuktikan Dirinya
Ia tidak menjadikan kehidupan sebagai kompetisi tentang siapa yang paling sukses, paling kaya, atau paling berkelas. Ia nyaman dengan pencapaiannya tanpa harus terus mengumumkannya.
2. Tidak Menghitung Harga Barang Orang Lain
Orang yang memiliki class tidak terbiasa menilai seseorang berdasarkan merek tas, harga sepatu, restoran yang dikunjungi, atau mobil yang digunakan. Karena ia memahami bahwa nilai seseorang jauh lebih besar daripada benda yang dimilikinya.

3. Tidak Mempermalukan Orang Lain
Ini salah satu tanda yang paling jelas. Seseorang bisa memiliki lebih banyak uang, pendidikan, pengalaman, atau akses dibandingkan orang lain. Namun, ia tidak menggunakan kelebihannya untuk mempermalukan mereka yang berada di posisi berbeda. Justru, orang yang berkelas menggunakan kelebihannya untuk membuat orang lain merasa dihargai.
4. Tidak Merasa Lebih Tinggi Karena Lebih Mampu
Kemampuan finansial seharusnya memberikan lebih banyak pilihan, bukan lebih banyak alasan untuk merendahkan orang lain. Ketika seseorang mampu makan di restoran mahal, ia tetap bisa menghargai orang yang memilih makan sederhana. Ketika seseorang mampu membeli barang mewah, ia tetap bisa menghargai seseorang yang menggunakan barang lokal.

5. Murah Hati Tanpa Perlu Diumumkan
Ada orang yang senang membantu tetapi tidak merasa perlu menjadikan kebaikannya sebagai konten. Ia memberikan tip tanpa perlu difoto. Membantu seseorang tanpa perlu diumumkan. Memberikan kesempatan tanpa harus mengingatkan orang lain bahwa ia pernah berjasa. Because true generosity doesn’t always need an audience.
Elegance is quiet. Orang yang benar-benar memiliki sesuatu biasanya tidak merasa perlu berteriak bahwa dirinya punya.
Ia tidak perlu membuat orang lain merasa kurang agar dirinya merasa cukup.
Ia tidak perlu memperlihatkan semua yang dimiliki agar mendapatkan pengakuan.
Dan ia tidak menjadikan wealth sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang benar-benar “punya” akan terlihat dari dalam dirinya: self-respect, generosity, emotional maturity, good manners, dan kemampuan memperlakukan orang lain dengan baik.
Jika kamu ingin memperdalam social etiquette, body language, communication, dan personal image, kamu bisa mengikuti Private 1-on-1 Session with Clarissa untuk mendapatkan pendampingan yang lebih personal sesuai kebutuhanmu.
Atau, bergabung dalam Masterclass Ladies of Elegance by Classy Journey untuk mempelajari bagaimana membangun elegance sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Untuk informasi program dan pendaftaran, hubungi Admin Classy Journey melalui Instagram @imclarissa02 atau Instagram @classy.journey
Atau Hubungi admin: http://wa.me/+6287883872466



